Download the Exclusive Bali Art Guide Map
I Wayan Malik
Senior Artist
Baturulangun Batuan Artist Association
Painting in the Batuan style is a spiritual practice that begins with the patience of the hand while grinding Chinese ink (nggosok mangsi). This manual process is not merely about preparing materials, but a way to calm the soul before the brush touches the canvas. The true beauty of Batuan painting is not born of haste, but from meticulous layers of gradation—from ngucek to nyigar mangsi, which can reach up to six layers to create a living depth.
Through my studio, located near Pura Puseh Batuan, I strive to make art the continuously flowing breath of the community. I open my doors wide as an open space for anyone who wishes to spend time delving into this traditional technique. The success of my students in winning international awards is a pride that transcends personal satisfaction, because for me, the traditional art of Batuan will only survive if we are willing to give our hearts, time, and space for the next generation to grow
Melukis gaya Batuan adalah sebuah laku spiritual yang dimulai dari kesabaran tangan saat menggosok tinta Cina (nggosok mangsi). Proses manual ini bukan sekadar menyiapkan bahan, melainkan cara untuk menenangkan jiwa sebelum kuas menyentuh kanvas. Keindahan sejati lukisan Batuan tidak lahir dari ketergesaan, melainkan dari lapisan-lapisan gradasi yang teliti—mulai dari ngucek hingga nyigar mangsi yang bisa mencapai enam lapis untuk menciptakan kedalaman yang hidup.
Melalui studio saya yang terletak di dekat Pura Puseh Batuan, saya berupaya menjadikan seni sebagai nafas komunitas yang terus mengalir. Saya membuka pintu rumah lebar-lebar sebagai ruang terbuka bagi siapa saja, yang ingin menghabiskan waktu untuk mendalami teknik tradisi ini. Keberhasilan murid-murid saya meraih penghargaan internasional adalah kebanggaan yang melampaui kepuasan pribadi, karena bagi saya, seni tradisi Batuan hanya akan tetap hidup jika kita bersedia memberikan hati, waktu, dan ruang bagi generasi berikutnya untuk tumbuh.
I Wayan Malik is a senior artist in Batuan Village, born in December 1963. His life journey reflects the integrity and independence of a true artist. His fascination with fine arts began at an early age, and he grew into a 'fighter' who funded his entire education—from junior high school to university—purely through his own hard work as a painter. In the 1970s, he mastered commercial painting techniques to support his studies before eventually focusing fully on the deep idealism of traditional Batuan art.
His art education was forged through traditional apprenticeship methods, studying under the Batuan artists of previous generations, including I Made Budi. From these mentors, he absorbed the complexity of authentic Batuan gradation techniques, particularly the mastery of multi-layered nyigar mangsi that provides an extraordinary sense of depth to every classical object such as Patra Punggel and Karang Gajah.
Malik's most significant dedication today is his role as an educator and cultural driver. He has transformed his studio near Pura Puseh Batuan into an inclusive open space; a place where school children often visit to learn painting without barriers. His commitment to nurturing the next generation has yielded real results, including his mentored students such as Gendis and Luh Pratiwi, who secured international awards in 2004. As a senior member of the Baturulangun Artists Association, I Wayan Malik continues to carry out the 'proactive outreach' mission to schools, ensuring that the identity of Batuan art remains preserved and passed down with great pride.
I Wayan Malik adalah sosok perupa senior di Desa Batuan yang lahir bulan Desember tahun 1963.Perjalanan hidupnya mencerminkan integritas dan kemandirian seorang seniman sejati. Ketertarikannya pada dunia seni rupa dimulai sejak usia dini, dan ia tumbuh menjadi seorang 'petarung' yang membiayai seluruh jenjang pendidikannya—mulai dari SMP hingga bangku kuliah—murni dari hasil keringatnya sendiri sebagai pelukis. Pada tahun 1970-an, ia sempat menguasai teknik lukis komersial untuk mendukung biaya studinya, sebelum akhirnya memfokuskan diri sepenuhnya pada idealisme seni tradisi Batuan yang mendalam.
Pendidikan seninya ditempa melalui metode magang tradisional dari rumah ke rumah, di mana ia berguru pada seniman Batuan generasi sebelumnya termasuk I Made Budi. Dari para mentor ini, ia menyerap kerumitan teknik gradasi Batuan yang autentik, terutama keahlian dalam nyigar mangsi berlapis yang memberikan efek kedalaman luar biasa pada setiap objek klasik seperti Patra Punggel dan Karang Gajah.
Dedikasi Malik yang paling signifikan saat ini adalah perannya sebagai pendidik dan penggerak budaya. Studionya yang berada dekat dengan Pura Puseh Batuan ia jadikan sebagai ruang terbuka yang inklusif; tempat di mana anak-anak sekolah sering berkunjung untuk belajar melukis tanpa sekat. Komitmennya dalam mencetak generasi penerus telah membuahkan hasil nyata, di antaranya murid bimbingannya seperti Gendis dan Luh Pratiwi yang berhasil meraih penghargaan internasional pada tahun 2004. Sebagai anggota senior di Perkumpulan Pelukis Baturulangun, I Wayan Malik terus menjalankan misi 'jemput bola' ke sekolah-sekolah, memastikan bahwa identitas seni Batuan tetap terjaga dan diwariskan dengan penuh kebanggaan.
Style: Traditional Balinese, Batuan Style - Intangible Cultural Heritage of Indonesia
Mediums: Chinese Ink & Acrylic
To see more artworks or contact the artist, visit their links below